Cicilan kredit ala Islam dengan Murabahah

Berikut ini rangkuman konsultasi dengan ustadz Nurrohman yang membahas tentang ekonomi Islam.

Dalam sistem ekonomi, perdagangan, dan perbankan di dunia Islam, dikenal beberapa metode yang halal dalam bertransaksi secara syariah. Metode metode tersebut di antaranya:

  1. Jual beli secara cash; yang ini jelas sekali akad dan aturannya, ada uang ada barang. Hanya saja ada rukun2 yang harus diikuti, selengkapnya bisa dibaca di Jual Beli dalam Islam (yang Boleh dan yang Terlarang).
  2. Permodalan / pembiayaan usaha (dengan Mudarabah atau Musharakah); Ini salah satu model pembiayaan yang disarankan. Berbeda dengan model kredit bank konvensional yang menggunakan sistem bunga (yang jelas-jelas riba), kredit yang ditawarkan disini menggunakan cara sharing profit / bagi hasil melalui nisbah yang ditentukan dalam akadnya. Info selengkapnya ada di Musharakah & Mudarabah By Maulana Taqi Usmani atau MUSHARAKAH AND MUDARABAH AS MODES OF FINANCING .
  3. Cicilan kredit (Murabahah);

Khusus untuk item terakhir ini, perlu dijelaskan dalam akadnya.  Akad Murabahah ini mirip dengan akad dalam jual beli. Jadi ada proses transaksi pertukaran barang dengan uang, dimana pembayarannya dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu dengan besaran total pembayaran yang tetap. Dalam perjanjiannya pun diperkenankan adanya biaya administrasi, bonus ataupun sanksi.
Mengenai bonus dan sanksi ini tidak bisa disamakan dengan bunga.  Bunga dalam kredit konvensional merupakan pertambahan nilai dari nilai pokok pinjaman, dan hal ini jelas – jelas riba dan diharamkan. Sedangkan sanksi disini lebih ditekankan pada sanksi berupa denda misalnya keterlambatan pembayaran, sehingga dengan adanya sanksi ini, debitor akan berusaha menepati janji pembayarannya. Begitu pula bonus keringanan pembayaran hutang apabila melunasi sebelum jangka waktu pelunasan. Semua itu harus dijelaskan dengan gamblang pada saat perjanjian / akad antara kedua belah pihak.

Contoh murabahah ini misalnya si A membeli barang seharga 500 ribu rupiah, dan A menjualnya ke orang B dengan harga 600 ribu rupiah. Ingat, hal ini (markup) sah2 saja dalam dunia perdagangan / transaksi jual beli, namanya juga orang dagang, pasti kan cari untung. Di dalam akadnya, B berjanji akan membayar 600 ribu rupiah dalam 10 kali cicilan dalam kurun waktu 10 bulan, jadi setiap bulannya B akan membayar A sebesar 60 ribu rupiah. A juga menyetujui perjanjian ini. Maka jadilah akad murabahah ini.

Contoh lain misalnya berupa KPR, lebih tepatnya KPR syariah. Bank penyedia KPR membeli rumah dari developer dengan harga terntentu, misalnya 150 juta rupiah. Kemudian Bank tersebut menjual kepada pembeli dengan harga 240 juta rupiah, dicicil selama 10 tahun, sehingga pembeli membayar sejumlah 2 juta tiap bulannya selama 10 tahun.
Berbeda dengan praktek KPR konvensional saat ini, dimana bank akan menetapkan cicilan pada satu tahun pertama dengan nilai tetap, sedangkan di tahun berikutnya akan berubah sesuai dengan kondisi keuangan / fluktuasi di tahun tersebut. Ada pertambahan nilai yang didasarkan pada bunga, alias riba.

Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa di dalam Islam ada sistem pembayaran dengan cara dicicil / kredit yaitu Murabahah, dimana akad yang ada di dalamnya mirip dengan akad jual beli.

Mengenai rukun – rukun dan referensi untuk Murabahah bisa dibaca di Murabahah By Maulana Taqi Usmani atau di “MURABAHAH”.

11 Responses to “Cicilan kredit ala Islam dengan Murabahah”

  1. fajar Says:

    bila kita membuatkan tabel pembelian tunai dan kredit dalam satu tabel, tetapi nilai pembelian tunai dgn total kredit berbeda itu bagaimana hukumnya ?
    contoh :
    untuk barang X nilai tunainya 1 juta rupiah
    sedangkan nilai total kredit 1,5 juta rupiah yang dicicil selama 10 bulan menjadi 150 ribu/bulan.

  2. d'aby Says:

    asalkan akadnya jelas, tidak ada masalah.
    dalam hal ini, barang dibeli harganya menjadi 1,5 juta.
    tidak ada pertambahan nilai setelah barang resmi diperjualbelikan.

  3. FAuzi Says:

    bagaimana menentukan margin atau untung bagi bank syariah, apakah sesuai kesepakatan atau nilai inflasi yang ada

  4. eka Says:

    assalamu’alaykum …
    pertanyaan saya intinya sama seperti fajar
    misalnya kita melakukan penawaran ke pembeli kalo beli cash harganya berbeda dengan kredit, apakah dengan bentuk penawaran sperti itu dapat dikatakan kita sudah berniat untuk riba?
    minta penjelasannya lebih lanjut pak
    syukron

  5. adi Says:

    Assalamualaikum…
    kami mohon penjelasan mengenai sanksi berupa denda yang diberikan kepada nasabah yang terlambat membayar cicilan.
    sebagimana keterangan bapak diatas, bahwa denda jika dalam bentuk pertambahan nilai dari nilai pokok pinjaman, jelas – jelas riba dan diharamkan. tetapi jika tidak, maka tidak diharamkan. padahal kalo kita kembali kepada permasalahan riba jahiliyah yang diharamkan, kita dapati masyarakat jahiliyah pada saat itu jika meminjamkan uang kepada orang lain dan ketika jatuh tempoh orang yang berhutang belum mampu membayarnya, maka sipiutang akan menangguhkan hutangnya dengan syarat ada tambahan nilai uang, dan orang yang berhutangpun menyanggupinya.
    Adapun konsep Islam, jika orang yang berhutang tidak mampu membayar maka sipiutang diperintahkan untuk menunggu hingga orang yang berhutang mampu melunasinya. akan tetapi jika orang yang berhutang mampu tetapi tidak mau melunasi, maka orng yang meminjamkan boleh memberi sanksi tapi tidak dalam bentuk uang.
    oleh karena itu, sekali lagi kami mohon keterangan dari bapak mengenai penjelsan di atas.
    jazakumulloh khoiron

  6. irva Says:

    asss…
    sy ingin tanya bagaiman kalo murobbaha dicampur dengan akad yang lain bagaiman alur kerjannya?

  7. sigit Says:

    assalamu’alaikum
    dalam akad murobahah disebutkan harus ada barang, tetapi jika kita pinjam di beberapa LKS, barang tersebut tidak ada. mereka hanya menyerahkan uang untuk pembelian dan menarik biaya administrasi yang besarnya 0,5% dari pinjaman pokok. Selanjutnya terserah peminjam, uang tersebut mau dibelikan barang yang diakadkan tadi atau untuk keperluan lain tanpa adanya kontrol dai LKS. Bagaimana hukumnya keuntungan dan biaya administrasi yang diperoleh oleh LKS tadi? syukron.

  8. Iwim.M Says:

    Ass Wr Wb
    Baru-baru ini saya menandatangani mudabarah dengan bank syariah. pada saat perjanjian kami di sodorkan table yang mirip dengan bank konvensional yaitu ada pokok dan bunga. Dalam tabel di sebut pokok dan margin. Dan kalo saya lihat perhitungannya pun persis dengan konvensional yaitu memakai bunga effective dimana bunga atau margin yang disebutkan di sana adalah besar pada awal cicilan dan mengecil dengan semakin panjangnya cicilan. Bila saya membaca artikel di atas dan sumber lain ini bertentangan karena harusnya cicilan besarnya sama tanpa perlu mengingat lagi porsi margin maupun pokok. Syukron

  9. kredit tanpa agunan Says:

    tulisannya membuka ruang hati saya tentang cicilan kredit dalam perspektif Islam. saya suka sekali bacanya.

  10. Wisata Pulau Seribu Says:

    Infonya cukup membantu dan menambah pemahaman saya.

  11. rio Says:

    betul sekali apa yang di beri koment sebelumnya…apabila anda mengetahui riba..maka jelas denda itu riba jahilliah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: