Lirik lagu isinya pertanyaan semua

Ternyata kalau bikin lagu, liriknya ga harus rumit – rumit.
Cukup dengan kata – kata yang sederhana, tapi maknanya dalam…
Contohnya lagu Three Degrees yang judulnya When Will I See You Again. *liat di blog lyrics deh..*
Kalimat dalam lagu itu hanya terdiri dari 7 kalimat utama, dengan satu kalimat yang diulang terus menerus.
Kalau diperhatikan lagi, semua kalimatnya merupakan kalimat tanya. Simple bukan?
 
For your information, lagu ini termasuk dalam kategori lagu jadul, alias lagu yang dirilis pada jaman baheula, daku belum lahir kali …
Kalau kita dulu waktu kecil sering menonton tipi, ada acara pelajaran bahasa Inggris yang dikemas di TVRI, televisi kebanggaan kita bersama :P, yang ditayangkan sekitar maghrib *dulu acara tipi baru dimulai sekitar jam 4*, lagu ini jadi lagu soundtrack-nya …
hmm.. ngomongin TVRI, masih ada yang ngeliat ga ya? kalo kangen, coba deh intip website-nya di http://www.tvri.co.id/ .
 

Mike, ayam tanpa kepala

Sorry buat yang tidak berkenan, karena mengandung unsur kekejaman, tidak berperikehewanan, dan tentu saja, ada ayamnya…
Ini bukan karangan, bukan legenda, bukan mitos, bukan horor, bukan pula hoax.
Tapi benar – benar nyata.
Nama ayam itu adalah Mike, hidup selama 18 bulan (1945 – 1947) setelah kepalanya dipenggal.
Pada hari Senin, 10 September 1945, seorang petani dari Fruita, Colorado bernama Lloyd Olson, disuruh istrinya memotong ayam untuk makan malam ibu mertuanya. Ibu mertuanya sangat menyukai leher ayam, sehingga Olson berusaha memberikan porsi leher yang lebih panjang. Sayangnya dia gagal membunuh ayam berumur 5,5 bulan itu sehingga masih tertinggal satu telinga dan sebagian otak.
Tidak diketahui apa yang terjadi dengan kepala yang hampir lepas tersebut, tapi pada malam setelah pemenggalan tersebut, Mike tidur dengan kepalanya berada di bawah sayapnya. Melihat ini, Olson tersentuh dan meyakinkannya untuk tidak memasaknya.
 
Di luar kecerobohan Olson tersebut, Mike sang ayam tanpa kepala masih mampu bertengger dan berjalan dengan seimbang, bahkan masih mampu berusaha berlagak dan berkokok, meskipun tidak sempurna. Karena ayam tersebut tidak mati, Olson yang masih heran, memutuskan untuk merawat Mike, memberinya makan dari campuran susu dan air melalui penetes mata (seperti pipet). Dia juga memberi jagung kecil. Apabila Mike tersedak oleh lendirnya sendiri, Olson membersihkannya dengan menggunakan alat semprot.
 
Tidak mempunyai kepala, bukan berarti Mike kehilangan berat badannya. Setelah dipotong, beratnya sekitar 1,25 kg, dan ketika mati beratnya sudah bertambah hingga sekitar 4 kg.
 
Mike menjadi terkenal, dia melakukan tour kemana-mana, dan tentu saja memberikan pendapatan bagi pemiliknya. Kepala yang terpotong juga ditampilkan, tapi ini bukan kepalanya yang sebenarnya, karena kepalanya yang asli sudah dimakan oleh kucing. Olson mendapat kritik dari berbagai aktifis karena tindakannya yang tidak menyelesaikan pekerjaan pemotongannya dan menyebabkan ayam tersebut sengsara.
 
Pada bulan Maret 1947, Mike mati tercekik (baca: tersedak) karena Olson kurang berhati – hati saat memberi makan. Dengan alasan tertentu, Olson mengklaim bahwa dia sudah menjual ayam tersebut, sehingga cerita tour Mike masih ada sampai dengan 1949.
 
Di kemudian hari, diketahui bahwa alat pemotong yang digunakan tidak memutuskan urat di leher dan penggumpalan darah mengakibatkan Mike tidak dapat mati kehabisan darah. Meskipun hampir seluruh kepalanya hilang, sebagian batang otak dan sebuah telinga masih tertinggal di tubuhnya, sehingga semua refleknya masih bisa dikendalikan.
 
Peristiwa Mike Ayam tanpa Kepala ini diperingati setiap tahunnya sejak 1999 di bulan Mei di Fruita Colorado dan dikelola oleh sebuah badan (http://www.miketheheadlesschicken.org/). Tidak diketahui mengapa peringatannya tidak dilakukan pada bulan September – hari pemenggalan.
Peristiwa ini menginspirasikan mereka bahwa kita bisa hidup normal meski kita sudah kehilangan otak kita.
 
Hmm… hidup tak harus pakai otak ya? 😛