Aisyah, adinda siapa?

Bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, bulan yang dimuliakan.
 
Kali ini kita tidak membahas hikmah bulan Ramadhan, karena tentu saja sudah banyak yang lebih kompeten mengkuliti isi Ramadhan ini. Di bulan ini, di radio, tv, atau media lainnya, bahkan pengamen, mengumandangkan lagu – lagu islami, dari versi nasyid sampai dengan pop hingga rock. Salah satu lagu islami yang saya sukai adalah lagunya bimbo, yang judulnya Aisyah adinda kita“.
Aisyah dalam lagu itu digambarkan sebagai sosok pemudi yang diidam-idamkan, muslimah yang pantas jadi panutan. Mirip dengan Aisyah istri Rasul, hanya saja jamannya berbeda. Muslimah, prestasinya cemerlang, bintang kampus, aktivis juga, bagus akhlaknya, terlebih lagi: jelita … Kurang apa coba? (almost) Perfect!

Ada yang menggelitik di dalam lirik lagu itu. Mulai Muharam 1401 Aisyah memakai jilbab. Dari liriknya, sepertinya Aisyah mulai memakai jilbab ketika akan lulus SMA atau mulai kuliah. Muharam 1401 bertepatan dengan bulan November 1980 dalam sistem kalender solar. Muharam 1404, Aisyah masih pake jilbab dan udah mo lulus… (dan daku baru lahir.. 😦 )

Lulusan SMA atawa orang mo kuliah itu rata-rata berumur sekitar 18 tahun. Berdasarkan data dan fakta tersebut, diperkirakan Aisyah lahir pada tahun 1962. Jadi, Aisyah dalam lagu tersebut tidak pantas lagi disebut adinda.. udah tua… hehehe…
Bagaimanapun juga, kita ambil aja inti cerita dalam lagu itu … bahwa ada makhluk bergender wanita, seorang muslimah tulen, cerdas, berakhlak luhur, nan jelita..
Kira-kira istri siapa dia sekarang ya? Masih adakah Aisyah di jaman sekarang? Kalo ada, mau dunk jadi istriku… hihihii….
Oh iya, di bagian akhir dari lagu itu dituliskan, bahwa ada sepuluh, seratus, sejuta Aisyah… hmm… masih ada harapan… 😀
Jadi, kalo ada yang punya adik yang mirip-mirip Aisyah gitu, ijinkan dunk ta’aruf ama daku… 😛

Advertisements

CITIUS – ALTIUS – FORTIUS

Pernah jalan – jalan di sekitar Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta?
Pernah baca tulisan CITIUS – ALTIUS – FORTIUS yang berada di sekitar sana?
Tahu artinya tidak?
Meskipun sudah tahu atau belum, dan sekarang tidak sedang hangat – hangatnya olimpiade, tapi ada baiknya anda baca saduran berikut ini.


Disadur dari :
The Olympic symbols
© Olympic Museum and Studies Centre, Lausanne, 2002
source: http://multimedia.olympic.org/pdf/en_report_672.pdf

5 Cincin

5 cincin menggambarkan 5 benua.
Cincin tersebut terjalin untuk menunjukkan kebersamaan dan pertemuan para atlit dari seluruh dunia selama olimpiade.
Pada saat simbol cincin ini dikeluarkan pada olimpiade pertama kali, posisi jalinan pada cincin terkesan agak ganjil / aneh dibandingkan dengan yang ada sekarang ini.

Sekarang, simbol olimpiade ini memiliki aturan ketat. Standar grafiknya telah diatur sedemikian hingga, misalnya posisi dan warna dari setiap cincin (biru, kuning, hitam, hijau, dan merah).

Simbol cincin ini tidak dapat dipakai tanpa ijin dari International Olympic Committee (IOC).

Bendera

Pada bendera olimpiade, simbol cincin tampil dengan latar belakang putih.
Bendera ini menguatkan ide yang membawa seluruh negara dalam kebersamaan pergerakan olimpiade.

Motto

Motto olimpiade terdiri dari tiga kata dari bahasa Latin:
CITIUS – ALTIUS – FORTIUS
yang berarti:
FASTER – HIGHER – STRONGER
(tercepat, tertinggi, terkuat)
Tiga kata ini menganjurkan para atlit untuk memberikan kemampuan terbaiknya pada saat berkompetisi dan untuk melihat usahanya sebagai sebuah kemenangan.

Maksud dari motto ini adalah bahwa menjadi yang pertama bukanlah prioritas penting, tapi memberikan yang terbaik dan berusaha untuk meningkatkan mutu pribadi adalah tujuan yang bermanfaat. Hal ini berlaku untuk para atlit maupun kita.

Tiga kata Latin ini menjadi motto olimpiade pada tahun 1894, tahun pembentukan IOC. Pierre de Coubertin mengusulkan motto ini, berasal dari temannya Henri Didon, seorang pendeta Dominic yang mengajarkan olahraga kepada muridnya.

Untuk memahami motto ini, kita bisa membandingkannya dengan frase berikut:
The most important thing is not to win but to take part!
(Yang lebih penting bukan untuk menang, tapi untuk ikut serta.)
Ide ini dikembangkan oleh Pierre de Coubertin yang terinspirasi oleh khutbah Uskup Pennsylvania, Ethelbert Talbot, saat olimpiade di London pada tahun 1908.

Obor

Obor olimpiade adalah salah satu ciri khas dari Olimpiade. Dari saat obor dinyalakan hingga dikeluarkan, ada beberapa ritual yang harus dilaksanakan:

– penyalaan: Sesuai dengan asal mula Olimpiade, obor dinyalakan di Olympia, Yunani, beberapa bulan sebelum pembukaan. Obor ini hanya bisa dinyalakan dengan sinar matahari.

– rute keliling: Dari Olympia menuju tempat berlangsungnya olimpiade, obor melewati daerah, negara, dan benua yang berbeda.

– kedatangan di arena: pada hari pembukaan, obor masuk ke arena dan dinyalakan oleh pelari akhir. Obor menyala selama olimpiade berjalan dan dimatikan ketika olimpiade selesai.

(aby)

Bersyukurlah karena engkau berjilbab

artikel lama, belum masuk ke blog…
 
 

Bersyukurlah karena engkau berjilbab

 

 

Alkisah, di gedung tempat kantorku bernaung, yang berada di bilangan segitiga emasnya Jakarta, ada seorang pekerja wanita yang sehari-harinya bertugas sebagai cleaning service. Di gedung ini seluruh pekerjanya mengenakan pakaian seragam yang bagus dan rapi, bahkan karyawan di kantorku kalah rapi dibandingkan dengan mereka. Misalnya saja security alias satpam yang biasanya kita temui umumnya berwajah garang dengan pakaian seragam mirip dengan seragam polisi, berbeda jauh dengan security di gedung ini. Security di gedung ini mengenakan seragam ala parlente dengan jas lengkap dengan dasinya. Tak cukup dari seragam saja, tapi penampilan dan muka pun bisa dikatakan cakep n cantik (ada ceweknya juga yang jadi security).

 

Lain job description lain pula seragamnya. Jika security menggunakan pakaian jas, tidak demikian halnya dengan cleaning service. Disesuaikan dengan pekerjaannya yang tidak menuntut mereka untuk bertatap muka dengan orang lain, para services ini berpakaian bak “maid” dari negeri holland sana. Cukup susah juga menggambarkannya, tapi pada intinya ada seragam khusus buat mereka.

 

Kembali lagi kepada pekerja wanita tadi, peranan yang sama juga harus dia lakukan. Dia harus menggunakan pakaian berwarna hitam putih ala “maid” itu tadi. Tak sekedar itu saja, ada kewajiban bagi karyawan gedung ini untuk selalu berpenampilan menarik. Jadi jangan heran apabila cleaning service di gedung ini terlihat menarik.

 

Suatu ketika aku melihat dirinya pada saat pulang kerja. Satu hal yang membuat diriku tak habis pikir adalah busana yang dikenakannya jauh berbeda dari yang dia gunakan saat dia bekerja. Yang dimaksud disini bukannya dia mengenakan seragam atau tidak, melainkan gaya berbusananya. Ya, dia mengenakan jilbab di luar tempat kerjanya.

 

Fenomena yang mungkin memang sudah tidak asing lagi, tapi akan terasa aneh bila kita sendiri yang mengetahuinya. Ada fenomena lain seperti jilbab gaul, atau berjilbab di siang hari aja, atau berjilbab ketika di kampus aja. Fenomena itu memang sudah menjadi “kerelaan” dari pemakainya. Tapi fenomena “melepaskan jilbab untuk mendapat pekerjaan“, apa harus terjadi di Indonesia? Apakah Indonesia akan menjadi negara seperti Turki dan Singapore?

 

Beberapa pertanyaan pun timbul di benak, apakah yang salah dengan jilbab? Apakah dengan menggunakan jilbab akan mengganggu dalam melakukan pekerjaan? Apakah membersihkan lantai harus melepaskan jilbab? Bila tubuh tertutup dengan jilbab, apakah akan mengurangi kecantikan? Jika hal ini ditanyakan kepada pemilik / manajemen gedung, pasti banyak jawaban yang mereka kemukakan untuk menampik pertanyaan tersebut, dari alasan yang tidak masuk akal hingga alasan logis yang dibuat-buat.

 

Di masa yang serba sulit ini, banyak orang rela mengorbankan berbagai hal untuk dapat bertahan hidup. Jika pekerja wanita tadi ditanya mengapa bersedia melepas jilbabnya saat bekerja, mungkin akan dijawab dikarenakan tidak ada pekerjaan lain atau susah cari pekerjaan. Memang dia tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Akankah nasib yang menimpa wanita tersebut bisa terjadi pada anda, saudara perempuan, anak perempuan, atau istri anda? Karena itu, bersyukurlah jika masih bisa mengenakan jilbab, jika belum berjilbab, adakah duri yang menghalangi memakainya sebagaimana halangan yang dialami wanita tadi? (aby)