Jadi Senior, makin banyak omong doank

Menjadi orang senior di kantor bisa jadi kebanggaan tersendiri bagi beberapa orang. Dihormati, dipandang, dikenal banyak orang, punya wewenang, punya kuasa, bisa perintah orang, bisa minta macam-macam, bisa apa saja sesukanya.. Hmm.. tidak semua orang sih, tapi hampir pasti rasa superior karena senioritas mengakibatkan seseorang merasa lebih daripada yang lain.
 
Tapi, apakah orang yang senior itu seimbang dengan label “SENIOR” yang ditempelkan padanya?
Ada beberapa kriteria yang menyebabkan orang menyandang label senior:
  • karena usia / masa kerja; yang ini jelas sekali ketika orang semakin tua akan semakin dihormati. Secara logisnya sih, orang yang semakin berumur itu semakin bertambah pengalamannya. Dengan pengalamannya tersebut, orang tersebut menjadi pusat untuk bertanya.
  • karena kepandaiannya; sehingga orang tersebut dikenal karena keahliannya.
  • karena kharisma / pengaruhnya; Banyak cara untuk meraih rasa simpatik setiap orang. Orang yang bisa mendapatkan rasa simpatik, akan dengan mudah mempengaruhi orang lain. Orang seperti ini belum tentu dia pandai dalam bidang / keahlian khusus, tapi daya tarik sosialnya mengakibatkan orang lain tidak mempermasalahkan kepandaiannya.
  • karena sifatnya; Hmm… bisa jadi orang yang galak dianggap senior… begitu?๐Ÿ˜›
  • karena sok senior; kalau yang ini memang orang yang tak tahu diri… ๐Ÿ˜€
Semakin senior seseorang, (semestinya) makin banyak kerjaannya. Dan tentu saja dengan senioritasnya, orang tersebut akan dengan mudah mendelegasikan pekerjaannya kepada para bawahannya. Mereka tidak perlu mengerjakan hal-hal teknis lagi. Tinggal ngomong aja, semua beres..
Bahkan, bila sudah terlalu pandai, bisa bikin analisa yang aneh-aneh tanpa mempertimbangkan kemampuan teknis. Dan sebagai bawahan hanya manggut-manggut saja, entah mengerti atau tidak, yang jelas tidak berani untuk menolak.
Misalnya senior itu disuruh mengerjakan apa yang dia omongkan, mungkin rencana kerja yang semula 3 bulan dikerjakan menjadi 1 tahun lebih, karena secara teknis dia tidak menguasainya… hehehe…
 
Kadangkala senior itu juga ngomong hal-hal yang digunakannya untuk berkelit dari masalah, atau untuk mengamankan posisinya. Padahal yang diomongin senior itu sekedar omongan tanpa tindakan nyata, tanpa aksi yang berarti. NATO. OMDO.
Sedangkan dalam salah satu ayat tercetak: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. 61:3)
 
Terbayangkah apabila kita menjadi senior, kemudian tidak ada orang di sekitar kita yang bisa kita suruh?
Kalau di rumah sendirian, mungkin senior itu mirip orang yang nyuruh-nyuruh, padahal pembantu lagi mudik…
(aby)

2 Responses to “Jadi Senior, makin banyak omong doank”

  1. yuhana Says:

    salam kenal juga, isinya asyik… saya tunggu update-annya๐Ÿ™‚

  2. heru Says:

    Mas aby, klo senior di kampus bisa ikutan mressing maba :-p .

    Sekarang masih ada ngga ya acara pressing mempressing maba? ehm.. jadi ingat romantisme format/sys dulu…๐Ÿ˜€


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: