Busway implementation = sucks

Saya pendukung pelaksanaan busway, karena udah barang tentu akan memudahkan transportasi khususnya bagi saya yang belum memiliki kendaraan pribadi. Selain itu juga karena kenyamanan dan kecepatannya.

Tapi kali ini saya menyadari betapa buruknya implementasi 4 koridor baru ini. Terkesan sangat dipaksakan launching-nya.
Ceritanya begini… Sepulang kuliah sekitar jam 21.45 saya memasuki halte busway Salemba. Dengan harapan masih ada bus dari Ancol yang lewat, akhirnya pada pukul 22.10 datang juga bus-nya. Ini bukanlah bus sapujagat atau bus terakhir dari Ancol. Tujuan saya adalah halte Mampang. Jadi saya harus transfer melalui halte Matraman dan Halimun. Dari Salemba sebenarnya saya sudah pasrah aja kalo nanti cuman bisa sampai Halimun / Kuningan, karena bus terakhir dari Pulogadung ke Dukuh Atas via Matraman berangkat pukul 22.00, sama halnya dengan bus sapujagat di koridor lainnya. Dari Salemba ke Matraman tidak ada halte lain, karena sangat dekat. Biar lebih jelas, silakan lihat rute busway berikut ini:

Yang menjengkelkan saat sampai di halte Matraman adalah, ketika melewati jembatan transit, bus dari Pulogadung telah melewati halte Matraman 2 di jalan Pramuka (dan baru saya ketahui belakangan bahwa ini bus sapujagat dari Pulogadung).
Di halte tersebut sudah sepi.. Tinggal 3 orang seperti saya yang juga berharap ada bus yang menuju Halimun. Ketika saya tanya dengan satgas busway yang hendak menutup halte itu, sungguh menyedihkan kenyataan yang saya dapatkan. Bus terakhir telah lewat dengan bangku banyak yang kosong. Padahal busway yang saya tumpangi sebelumnya penuh sesak, dan bus sapujagat dari ancol juga masih lewat beberapa saat ketika saya memutuskan untuk naik taksi.

Dari hasil wawancara dengan satgas disana, beberapa hal yang membuat busway menyebalkan di antaranya adalah:

  1. Armadanya masih sedikit (nunggu 25 menit di halte?)
  2. Sarana komunikasi, antar halte tidak ada lho.. Bahkan untuk sebuah handy talkie… bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan sebuah halte? atau tiba-tiba bus-nya mogok di halte lain sehingga penumpang halte berikutnya tidak terangkut?
  3. Tidak terkoordinir, sebagai impact dari tidak adanya sarana komunikasi. Sistem koordinasinya payah.. supervisor ditempatkan di beberapa titik, dan komunikasi antar halte ini dilakukan oleh para supervisor dengan mendatangi halte satu persatu… hah? beginikah?
  4. Semua infrastruktur masih darurat, jadi jangan berharap kalo di halte koridor yang baru sudah ada sistem ticketing yang bagus, atau A/C-nya dingin….

Tapi untuk bisnis, banyak peluang yang ada. Dari iklan berjalan, location based commerce, radio busway, sms busway, gps, dan lain sebagainya… Sabar ya…

* ditulis saat naik taksi karena ketinggalan bus terakhir

2 Responses to “Busway implementation = sucks”

  1. Nur Aini Rakhmawati Says:

    kok petanya kayak MRT-nya taiwan ?
    Tapi di taiwan tiap 5 menit sekali ada MRT datang.

  2. qyut Says:

    hehehe… indonesia kan mencontoh dari yang sudah maju..
    sayang monorail belum jadi, dan kalaupun jadi tidak seperti MRT di taiwan kali…

    armada-nya masih sedikit.. dari target sekitar 200-an, launching kemarin baru datang 10 bus… ga sampai 10%😦


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: