Kredit: membantu atau membuat sengsara?

Telah menjadi hal yang wajar di jaman ini, orang melakukan kredit untuk memperoleh keinginannya. Sang debitor (yang mencicil kredit) menyerahkan sejumlah uang tertentu kepada kreditor (yang memberi kredit) secara berkala hingga semua hutangnya terlunasi. Begitulah pengertian sederhana mengenai kredit, bukan pengertian kredit yang sebenarnya di ilmu ekonomi.

Banyak pola kredit yang disajikan dan diakadkan antara kreditor dan debitor, dari model cicilan biasa, dengan tambahan denda dan administrasi, bahkan hingga model bunga berbunga. Terlepas dari implementasi kredit itu sendiri dan hukum yang terkait dengan itu, kredit memiliki sisi positif dan sisi negatif.

Kredit cenderung dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Masyarakat cenderung konsumtif tanpa memikirkan ‘kesehatan’ keuangannya. Kredit yang bersifat konsumtif bukan berarti buruk atau tidak baik, namun ‘budaya kredit’ yang ada di masyarakat memperlihatkan bahwa masyarakat menganggap semuanya bisa dikredit semaunya. Padahal maksud kredit sebenarnya hanya membantu mereka memperoleh keinginannya, dan tentu saja harus ada batasannya.

Ditambah dengan sistem kredit yang disertai bunga berbunga jelas semakin memperparah tujuan kreditšŸ˜¦ . Memang pada dasarnya kreditor tidak mau mengeluarkan uang tanpa membuahkan hasil. Tapi dengan bunga yang jelas-jelas merupakan riba, debitor menjadi terbebani. Sayang sekali para kreditor ini bertindak murni karena alasan bisnis. Kredit yang semula digunakan untuk memperoleh barang, malah menjadi bumerang ketika harus berhadapan dengan bunga.

Dalam memberi kredit, misalnya kredit rumah, motor, atau kredit lainnya, kreditor hendaknya memperhatikan kekuatan ekonomi dari debitor, sehingga kreditor tidak terbebani hutang kredit yang mencekik leher. Namun yang terjadi saat ini, orang bisa melakukan kredit hanya dengan menunjukkan KTP. Ada juga yang menggunakan sarana pemudah kredit; kartu kredit untuk membeli barang. Jika tidak segera dicicil / dilunasi, bisa jadi bunga dan denda melebihi hutang pokoknya.

Meski begitu, ada sisi positif dari kredit:

  1. Membantu masyarakat memperoleh keinginannya. Beberapa orang memiliki kesulitan untuk menyediakan sejumlah uang cash untuk membayar produk yang ingin dibelinya, dengan alasan tertentu misalnya susah untuk menyisihkan atau menyimpan sebagian pendapatannya. Kita ambil contoh kredit pemilikan rumah (KPR). Dengan harga rumah saat ini, akan sulit bagi sebagian orang untuk mendapatkan rumah yang diidam-idamkannya, apalagi jika mengingat harganya yang terus melambung. KPR membantu mereka memiliki rumah dengan segera, dan ‘memaksa’ mereka menyisihkan sebagian uangnya untuk mencicil kreditnya.
  2. Memberi modal usaha. Bagi orang produktif tapi tidak mampu, modal awal sangat dibutuhkannya agar dia dapat berkembang, bahkan dari titik nol sekalipun. meskipun belum tentu untung, setidaknya ada peluang bagi mereka untuk berusaha. Terlebih lagi ada mekanisme bagi hasil (bukan bagi rugi :p ) yang didasarkan pada nisbah, sehingga tidak mencekik seperti bunga. Kredit yang produktif inilah yang bisa memberikan sumbangsih dalam perbaikan ekonomi negara kita.

Jadi, kapankah bangsa kita terlepas dari kredit yang bikin sengsara?

2 Responses to “Kredit: membantu atau membuat sengsara?”

  1. Heri Heryadi Says:

    Kalo aye udah kerja kayaknya aye ga mau ih bikin credit card, mending bikin debit card aja, biar lebih mudah di kontrol pengeluarannya.

  2. Zoe Zamorano Says:

    menurut anda tentang sbagian besar sifat dari orang indone
    sia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: